10:48 am melampaui Stasiun Wonosari
Baru terbangun dari tidur pagiku
Masih sawah hijau menghampar disepanjang sisi kiriku
Berada dalam kereta yang bergerak terayun-ayun
Melampaui stasiun demi stasiun
10:54 am @Stasiun Kebumen [296 km menuju Bandung]
Membaca buku “Hidup Tak Pernah Mengenal Siaran Tunda”
Bab “Merancang Stasiun-Stasiun Kenangan”
-cuplikan hal 154-
…..
Tapi disini kita tidak sedang belajar tentang nama-nama hari. Tapi tentang stasiun kenangan, tentang momentum, yang salah satu penandanya bisa saja berupa hari. Maka kita jadi mengerti, mengapa setiap Senin dan Kamis Rasulullah S.A.W. senantiasa puasa (dan menganjurkan kita juga untuk berpuasa)? Bukan Selasa atau Rabu secara khusus? Sebab, seperti yang telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah, bahwa pada hari itu, Senin dan Kamis, amal-amal diangkat ke langit untuk dilaporkan kepada Allah SWT. “Aku lebih suka jika pada saat amal-amalku diangkat ke langit dan dilaporkan kepada Allah, aku dalam keadaan puasa.” Jadi, Senin dan Kamis dalam kacamata ibadah adalah saat membangun stasiun kenangan dan prasasti kshalihan, salah satunya dengan puasa.
…..
11:24 am melalui terowongan selama ± 40 detik
Pernah membaca dalam sebuah buku bahwa sebuah perjalanan akan mengajarkanmu banyak hal. Dan memang itu yang akan terjadi jika kamu melakukan perjalanan. Kalau gak salah di buku “Travelers Tale” dikisahkan ada sepasang orang tua yang menyuruh anaknya untuk melakukan perjalanan keseluruh penjuru dunia selama beberapa tahun untuk mengajarkan anaknya tentang hidup sebelum akhirnya dia masuk bangku kuliah. Karena orang tua itu percaya sebuah perjalanan akan membuat anaknya makin mengerti tentang arti kehidupan –pelajaran yang kamu tidak peroleh di bangku kuliah-.
Perjalanan kecilmu mungkin akan mengingatkanmu pada perjalanan hidupmu yang panjang. Mungkin kamu akan transit pada beberapa tempat sebelum akhirnya kamu benar benar tiba di tujuanmu. Meresapi pergerakan-pergerakan pesawahan, pepohonan, dan rumah rumah yang datang dan pergi silih berganti mengingatkan kita bahwa akan ada peristiwa yang menunggu untuk dilakoni, kelak dia akan datang dan kelak kemudian hal itu akan berlalu dibelakangmu sebagai kenangan..
nice story..
makasih bapianya ta..
tapi kamu lupa dengan salaknya..
salaknya beli aja sendiri aja ya ndri…hehe
Klo gw lebih seneng saat amal2 gw dilaporkan tetep seperti apa adanya….toh Tuhan Yang Maha Tahu akan tau tanpa adanya laporan…..Tuhan tau apa yang gw perbuat hari minggu, selasa, rabu dan hari2 lainnya……
hoalah…di luar jam-jam itu kamu kerjaannya tidur yah di kreta??..hehe…
yah, isi blog yang bagus…parameternya aku ga bisa ngerti baca blog kamu dlm seklibat..hehe…oh iya, thx for the Bakpia…hehe…beberapa hari puas juga makanin Bakpia…mnikmati makanan yg udah susah payah dibelinya..hehe…
wah,wah, uta, ini perjalananmu yang ke berapa???
koq sedetail itu yawh… hehe, aku sudah berapa kali jember -bandung, tapi selalu terlewati dengan tidur pulasss…
pernah si kepikiran buat nyatet stasiun apa aja yang ta’lewati… tapi udah keburu… zzz…zzz…
hehe..perjalanan kesekian si mbak…
tapi baru menikmati lagi perjalanan by train….
menyenangkan..
trus rada mellow2 gitu pas perjalanan..
jadi membuatku pengen menulis sesuatu
utaaa..tulis yg baruu dong..
sabar bu…waktunya aku tempur dengan uts dulu yak…after this deh…insya Allah… =)..nantikan saja…hoho
nice writing ta’
buat Prof..ni tanggapanku..
“Kalau hamba-Ku mendekat sejengkal, Ku sambut ia sehasta. Kalau ia mendekat sehasta,Ku sambut ia sedepa. Kalau hamba-Ku datang padaKu dengan berjalan, Ku sambut ia dengan berlari…”
jadi..itu pilihanmu..mau mendekat sejengkal, sehasta atau mau berjalan..wallahu’alam bis showab..